Tectona grandis
Jati
menyebar luas mulai dari India, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Indochina, sampai ke Jawa. Jati tumbuh di hutan-hutan gugur, yang menggugurkan daun di musim kemarau.
Menurut
sejumlah ahli botani, jati merupakan spesies asli di Burma, yang kemudian
menyebar ke Semenanjung India, Thailand, Filipina, dan Jawa. Sebagian ahli
botani lain menganggap jati adalah spesies asli di Burma, India, Muangthai, dan
Laos.
Sekitar
70% kebutuhan jati dunia pada saat ini dipasok oleh Burma. Sisa kebutuhan itu
dipasok oleh India,
Thailand,
Jawa,
Srilangka,
dan Vietnam.
Namun, pasokan dunia dari hutan jati alami satu-satunya berasal dari Burma. Di Afrika dan Karibia
juga banyak dipelihara.
Jati
paling banyak tersebar di Asia. Selain di keempat negara asal jati dan
Indonesia, jati dikembangkan sebagai hutan tanaman di Srilangka (sejak 1680),
Tiongkok (awal abad ke-19), Bangladesh (1871), Vietnam (awal abad ke-20), dan
Malaysia (1909).
Iklim
yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu
panjang, dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya
yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara
0 – 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1300 m dpl.
Tegakan
jati sering terlihat seperti hutan sejenis, yaitu hutan yang seakan-akan hanya
terdiri dari satu jenis pohon.
Ini
dapat terjadi di daerah beriklim muson yang begitu kering, kebakaran lahan
mudah terjadi dan sebagian besar jenis pohon akan mati pada saat itu. Tidak
demikian dengan jati. Pohon jati termasuk spesies pionir yang tahan kebakaran
karena kulit kayunya tebal. Lagipula, buah jati mempunyai kulit tebal dan
tempurung yang keras. Sampai batas-batas tertentu, jika terbakar, lembaga biji
jati tidak rusak. Kerusakan tempurung biji jati justru memudahkan tunas jati
untuk keluar pada saat musim hujan tiba.
Guguran
daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat,
sehingga menyulitkan tumbuhan lain berkembang. Guguran itu juga mendapat bahan
bakar yang dapat memicu kebakaran —yang dapat dilalui oleh jati tetapi tidak
oleh banyak jenis pohon lain. Demikianlah, kebakaran hutan yang tidak terlalu
besar justru mengakibatkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong
untuk berkecambah, pada saat jenis-jenis pohon lain mati.
Tanah
yang sesuai adalah yang agak basa, dengan pH antara 6-8, sarang (memiliki aerasi yang baik), mengandung cukup banyak
kapur (Ca, calcium) dan fosfor (P). Jati tidak tahan tergenang air.
Pada
masa lalu, jati sempat dianggap sebagai jenis asing yang dimasukkan
(diintroduksi) ke Jawa; ditanam oleh orang-orang Hindu ribuan tahun yang lalu.
Namun pengujian variasi isozyme yang dilakukan oleh Kertadikara (1994)
menunjukkan bahwa jati di Jawa telah berevolusi sejak puluhan hingga ratusan
ribu tahun yang silam (Mahfudz dkk., t.t. ).
Karena
nilai kayunya, jati kini juga dikembangkan di luar daerah penyebaran alaminya.
Di Afrika
tropis, Amerika tengah, Australia,
Selandia Baru, Pasifik dan Taiwan.
Sebaran hutan jati di Indonesia
Dalam
beberapa tahun terakhir, ada upaya untuk mengembangkan jati di Sumatera Selatan
dan Kalimantan Selatan. Hasilnya kurang menggembirakan. Jati mati setelah
berusia dua atau tiga tahun. Masalahnya, tanah di kedua tempat ini sangat asam.
Jati sendiri adalah jenis yang membutuhkan zat kalsium dalam jumlah besar, juga
zat fosfor. Selain itu, jati membutuhkan cahaya matahari yang berlimpah.
Sekarang,
di luar Jawa, kita dapat menemukan hutan jati secara terbatas di beberapa
tempat di Pulau Sulawesi, Pulau Muna, daerah Bima di Pulau Sumbawa, dan Pulau
Buru. Jati berkembang juga di daerah Lampung di Pulau Sumatera.
Pada
1817, Raffles mencatat jika hutan jati tidak ditemukan di Semenanjung Malaya
atau Sumatera atau pulau-pulau berdekatan. Jati hanya tumbuh subur di Jawa dan
sejumlah pulau kecil di sebelah timurnya, yaitu Madura, Bali, dan Sumbawa.
Perbukitan di bagian timur laut Bima di Sumbawa penuh tertutup oleh jati pada
saat itu.
Heyne,
pada 1671, mencatat keberadaan jati di Sulawesi, walau hanya di beberapa titik
di bagian timur. Ada sekitar 7.000 ha di Pulau Muna dan 1.000 ha di pedalaman
Pulau Butung di Teluk Sampolawa. Heyne menduga jati sesungguhnya terdapat pula
di Pulau Kabaena, serta di Rumbia dan Poleang, di Sulawesi Tenggara. Analisis
DNA mutakhir memperlihatkan bahwa jati di Sulawesi Tenggara merupakan cabang
perkembangan jati jawa.
Jati
yang tumbuh di Sulawesi Selatan baru ditanam pada masa 1960an dan 1970an.
Ketika itu, banyak lahan di Billa, Soppeng, Bone, Sidrap, dan Enrekang sedang
dihutankan kembali. Di Billa, pertumbuhan pohon jatinya saat ini tidak kalah
dengan yang ada di Pulau Jawa. Garis tengah batangnya dapat melebihi 30 cm.
Daerah sebaran hutan jati di Jawa
Sedini
1927, hutan jati tercatat menyebar di pantai utara Jawa, mulai dari Kerawang
hingga ke ujung timur pulau ini. Namun, hutan jati paling banyak menyebar di
Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu sampai ketinggian 650 meter di atas
permukaan laut. Hanya di daerah Besuki jati tumbuh tidak lebih daripada 200
meter di atas permukaan laut.
Di
kedua provinsi ini, hutan jati sering terbentuk secara alami akibat iklim muson
yang menimbulkan kebakaran hutan secara berkala. Hutan jati yang cukup luas di
Jawa terpusat di daerah alas roban Rembang, Blora, Groboragan, dan Pati.
Bahkan, jati jawa dengan mutu terbaik dihasilkan di daerah tanah perkapuran
Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Saat
ini, sebagian besar lahan hutan jati di Jawa dikelola oleh Perhutani, sebuah
perusahaan umum milik negara di bidang kehutanan. Pada 2003, luas lahan hutan
Perhutani mencapai hampir seperempat luas Pulau Jawa. Luas lahan hutan jati
Perhutani di Jawa mencapai sekitar 1,5 juta hektar. Ini nyaris setara dengan
setengah luas lahan hutan Perhutani atau sekitar 11% luas Pulau Jawa dwipa.



0 comments:
Posting Komentar